Cerita Panas 4 Hearts & A Fool – Part 39

Cerita Panas 4 Hearts & A Fool – Part 39by on.Cerita Panas 4 Hearts & A Fool – Part 39  4 Hearts & A Fool – Part 39 Setelah menerima telepon dari Oli yang terdengar panik, gw langsung bergegas menuju apartemen Cherllyne. Apa yang dilakukan Oli di apartemen Cherllyne sebenarnya? Apa Cherllyne yang mengundang Oli untuk datang? Atau Oli yang ingin berkunjung ke apartemen Cherllyne? Untuk apa? Berbagai pertanya muncuk di pikiran gw. Namun […]

 

4 Hearts & A Fool – Part 39

Setelah menerima telepon dari Oli yang terdengar panik, gw langsung bergegas menuju apartemen Cherllyne.

Apa yang dilakukan Oli di apartemen Cherllyne sebenarnya? Apa Cherllyne yang mengundang Oli untuk datang? Atau Oli yang ingin berkunjung ke apartemen Cherllyne? Untuk apa?

Berbagai pertanya muncuk di pikiran gw. Namun saat ini gw gak ada waktu untuk memikirkan semua itu. Gw harus secepatnya tiba di apartemen Cherllyne, kalau tidak, mereka…arghhh…gw ga mao mikirin itu. Kalo ampe Oli di apa-apain, gw bunuh si Dino.

Jalanan yang macet karena masih masuk jam pulang kantor, sungguh membuat gw sedikit frustasi dalam mencari celah, agar gw bisa segera tiba di lokasi. Untungnya tadi gw sempat bercumbu dengan mba Liana, karena kalo tidak, tentu saat ini gw sudah berada di rumah. Dan dari rumah menuju apartemen Cherllyne, maka dipastikan gw akan terlambat datang, karena jaraknya yang cukup jauh.

Namun kalo dari sini, untungnya tidak jauh, hanya saja kemacetan ini rasanya bikin gw ingin menembakan seluruh misil di motor ku kalau ada, terutama untuk angkutan-angkutan umum yang ngetem dan berhenti sembarangan.

Akhirnya setelah beberapa lama terhambat oleh padatnya jalan raya, gw tiba juga di komplek apartemen milik Cherllyne. Setelah gw mengambil karcis, gw langsung memacu motor gw ke tower tempat apartemen Cherllyne berada.

Saat gw memarkirkan motor gw persis di depan pintu masuk, seorang satpam langsung menghampiri gw untuk menegur gw. Tapi kebetulan, pikir gw.

Pak, tolong jangan parkir disana. Silahkan bapak parkir di tempat parkiran motor di basement pak, Seru petugas security tersebut.

Ahh kebetulan pak, tolong ikut saya pak, tolongin temen saya di atas, mereka mao diperkosa ama tamu nya, ayo pak cepet. Gw malah berseru balik ke petugas tersebut.

Gak bisa, bapak pindahin dulu motor bapak ke tempat parkiran motor, Seru security tersebut. Gilaa, bikin gw langsung esmosi jiwa.

BAGIAN MANA YANG LU KAGA NGERTI WAKTU GW BILANG TOLONGIN TEMEN GW YANG SEKARANG MAO DI PERKOSA ORANG, GOBLOKK?? LU MALAH NGERIBUTIN MOTOR GW. TOLONGIN DULU TEMEN GW DI ATAS, BEGO! Maki gw.

Tanpa gw perdulikan lagi orang goblok itu, gw langsung masuk ke dalam tower B tempat apartemen Cherllyne berada. Dan langsung menghampiri security penjaga pintu tower. Security yang tadi sempat berteriak untuk menahan gw, namun tidak gw hiraukan.

Pak, tadi ada tamu untuk ibu Cherllyne yang mengaku atas nama Rangga bukan? Tanya gw terburu-buru.

Maaf pak, kami tidak bisa memberitahu informasi sembarangan pak. Ujar security tersebut. Ya ampunnn, satu lagi nih.

Tamu tadi sekarang lagi mao melakukan tindakan kejahatan pak, mao melakukan tindakan pemerkosaan. Kalo sampai temen saya kenapa-kenapa, bapak-bapak ini termasuk yang saya tuntut ke polisi, karena bukannya menolong malah mempersulit. Ujar gw sewot.

AYO CEPET BUKA PINTU NYA BIAR KITA BISA TOLONGIN TEMEN SAYA SEKARANG Bentak gw, membuat security tersebut menjadi terkejut. Awalnya sempet bingung harus berbuat apa. Mereka berdua saling berpandangan.

Namun untungnya security penjaga pintu bertindak bijak dengan membuka kan pintunya. Lalu kami bertiga secepatnya langsung memencet tombol lift.

Menunggu pintu lift terbuka aja rasanya uda bikin gw mao ngamuk lagi. Namun untungnya tidak lama kemudian, pintu tersebut terbuka juga. Kami langsung masuk dan naik menuju apartemen Cherllyne.

Begitu sampai di lantai yang di tuju, gw langsung segera berlari, dengan di ikuti oleh kedua security tadi. Gw liat pintu apartemen Cherllyne terbuka, dan ada suara wanita yang berteriak-teriak.

Ya Allahhh, semoga gw ga terlambat Ujar gw rada panik mendengar teriakan yang gw yakin itu teriakan Oli.

Dan pas gw masuk, gw melihat pemandangan paling horor dalam hidup gw….

Gw terlambat!

Gw melihat Oli dengan tubuh lagi di tindih oleh seseorang, sementara batang kemaluan pria tersebut sedang mengaduk-aduk isi liang vagina Oli dengan buas. Dan tangan pria tersebut sedang meremasi payudara Oli.

Baju Oli sudah terbuka semua di bagian payudaranya, sementara celananya sudah menghilang entah kemana, saat batang kemaluan orang tersebut sedang mengocok vagina Oli yang terlihat memerah, akibat gesekan demi gesekan cepat antar kelamin mereka berdua.

Mulutnya pun sedang disodok-sodok oleh batang kemaluan pria satu lagi, dipaksa orang itu untuk meng-oral kemaluannya, membuat Oli sampai terbatuk-batuk jadinya.

PLAKKK!

Gw menepuk dengan keras kedua pipi gw, menghilangkan bayang-bayang di pikiran gw, saat gw masih menunggu lift ini tiba di lantai tujuan.

Kampret, kenapa gw jadi mikirin yang ga-ga sih lah. Maki gw sendiri. Gw emang kuatir banget Oli sampai kenapa-kenapa.

Begitu sampai pada lantai tempat tujuan kami, dan begitu pintu lift terbuka, gw dan kedua security tadi langsung berlari kencang menuju apartemen Cherllyne.

Pintu apartemennya sudah terbuka. Ini bagaikan sebuah deja vu dari bayangan pikiran jelek gw tadi.

Oh Tuhaannn, semoga apa yang kepikiran ama gw tadi ga ampe kejadian, gw mohon ya Allahh. Mohon gw dalam hati.

Dan belum sampai ke apartemen Cherllyne, kita orang dikejutkan oleh suara seseorang yang berteriak-teriak histeris dari dalam. Persis seperti bayangan gw tadi.

Namun kali ini suaranya adalah suara seorang pria. Dan saat kami akhirnya masuk, gw melihat seorang pria sedang berguling-gulingan di lantai sambil memegangi kedua matanya.

BANGSAATT! DASAR LONTEEE…LU SEMPROT MATA GW PAKE APAAN? ANJINGG! Maki orang yang kesakitan sambil memegangi matanya itu.

Sementara dua orang lagi sedang merangsek masuk ke dalam kamar yang pintunya sudah rusak dan terbuka. Walau pintu tersebut seperti terhalang sesuatu dari dalam, namun ke dua orang tersebut berhasil masuk ke dalam kamar.

BANGSATTT! ANJINGGG! KELUAR LOOO! Teriakan Cherllyne dari dalam kamar terdengar jelas oleh kami. Gw sempet melihat Cherllyne sedang memukul-mukulkan sesuatu yang dipegangnya ke orang pertama yang berusaha masuk.

Namun karena celah pintu yang terbuka tidak lebar, gw ga sempet liat keberadaan Oli, selain hanya dari teriakan-teriakannya. Nampaknya mereka sedang berusaha untuk melakukan niatnya berbuat cabul terhadap Cherllyne dan Oli di dalam

Gw langsung mengenali orang tersebut. Orang yang pernah gw bikin babak belur di mall kemaren, waktu lagi nolongin Cherllyne. Si Dino. Bangsat emang nih anjing kurap satu, pikir gw emosi jiwa.

Namun sebelumnya gw musti lumpuhin orang yang lagi memegangi matanya itu terlebih dahulu. Lalu gw melesat ke arahnya, dan langsung mendaratkan tendangan keras gw ke perutnya.

BUKKK! HOKKKK! Orang tersebut berteriak seperti orang mao muntah, saat kaki gw dengan telak menghantam perutnya

Kembali gw menendang dengan keras, kali ini ke arah wajahnya saat orang tersebut berusaha melihat siapa yang sudah menendangnya.

DUAKKK! Orang tersebut bahkan tidak sempat berteriak kesakitan, saat kaki gw menghantam pipi orang tersebut, hingga dia terjengkang jatuh, dan tidak bergerak lagi. Mungkin pingsan terkena hantaman kaki gw.

Setelah melihat dia tidak bergerak lagi, gw langsung melesat menuju mereka yang sudah merangsek masuk ke dalam kamar, di ikuti oleh salah satu dari kedua security tadi, yang sekarang tampaknya mereka sudah yakin akan kebenaran cerita gw. Sementara security yang satu lagi gw liat hendak mengikat kaki dan tangan orang yang tadi pingsan gw tendang.

Dengan sedikit bersusah payah, gw berhasil masuk ke dalam kamar. Gw liat Oli sedang di tindih oleh si Dino, yang sedang berusaha untuk membuka baju Oli. Sementara Oli pun bertahan mati-matian sambil berusaha memukul-mukul kepala dan badan si Dino.

Di tempat lain, Cherllyne terlihat sedang di dorong dengan posisi menghadap tembok, sementara orang yang satu lagi menekannya dari belakang. Tangannya juga berusaha untuk meremasi payudara Cherllyne.

BANGSAAATTT PENGECUTTTT! Teriak gw emosi tingkat dewa.

Karena posisi Cherllyne yang lebih dekat dengan gw, gw langsung menuju ke tempat Cherllyne berada. Gw langsung menarik dengan keras kerah baju orang tersebut, yang terkejut mendengar teriakan gw, dan melemparnya dengan keras ke belakang, hingga orang itu jatuh terpelanting menabrak tembok di belakang.

Security yang tadi mengikuti gw dan sudah berhasil masuk ke dalam kamar, langsung menahan dan memiting pergelangan tangan orang tersebut hingga tidak bisa bergerak.

Pak, tolong ikat tangan dan kaki dua orang itu juga, terus salah satu dari bapak-bapak, tolong hubungi polisi segera. Biar saya dan salah satu dari bapak-bapak sekalian yang menahan mereka disini hingga polisi datang. Seru gw ke dua orang security tersebut.

Akhirnya, security itu yang berinisiatif untuk memanggil polisi, setelah ia mengikat tangan orang yang gw lempar tadi, sementara security yang tadi mengikat tangan orang yang tadi pingsan gw tendang, berjaga-jaga di belakang gw.

Ranggaa… Ujar Cherllyne dalam keterkejutannya melihat kedatangan gw akhirnya.

Namun gw langsung menuju ke arah Oli, yang sedang di tindih oleh Dino, setelah mengangguk singkat ke arah Cherllyne. Oli sedang menangis saat dia merasa kehormatannya sedang terancam terenggut oleh bajingan pengecut yang bernama Dino ini.

Lu jing…ga ada kapok-kapoknya lu ya, uda gw bikin babak belur juga lu, Seru gw ke si Dino.

Saat Oli merasa si Dino lengah karena kedatangan gw, dia langsung mendorong dengan keras tubuh Dino, hingga terpelanting ke belakang. Oli langsung menyurut mundur ke pojokan ruangan sambil mendekap tubuhnya dan terus menangis.

Emosi gw bener ga ketahan lagi melihat keadaan Oli yang sedang menangis itu.

Saat si Dino bangun, dia terlihat celingak-celinguk bingung harus berbuat apa. Dia sadar kalo dia kalah jumlah sekarang, setelah melihat temannya sudah terikat baik tangan dan kakinya.

Lu liat kemana sih? LIAT KE GW BANGSATT! Bentak gw ke dia, membuatnya terkejut dan langsung menatap gw.

Ayo kita tuntasin urusan kita sekarang sebelum polisi dateng jing Ujar gw sambil maju dengan perlahan ke arah dia.

Its time for you to die jing, Seru gw, sambil merangsek menyerang Dino. Si Dino masih terlihat panik dan bingung awalnya, namun karena kebenciannya ke gw, dia mulai fokus ke gw akhirnya.

Heh…yang bakal mati tuh lu sendiri bangsat! Maki si Dino langsung menyerang gw dengan meninju menggunakan tangan kanan nya.

BUKK! Karena gw emosi, jadi terburu-buru sehingga pukulannya sempat mengenai ku, walau kutahan dengan tanganku. Lumayan sakit juga sih.

Gw langsung melepaskan pukulan balasan ke arahnya. Gw yakin pukulan ini bakalan menghantam telak ke wajahnya.

WUTTT! WHATT???? Pukulan gw hanya menerpa angin, saat si Dino merunduk ke bawah.

BUGGG! Tiba-tiba tanpa gw sadarin, sebuah pukulan menghantam telak pipi ku, hingga rasanya seluruh rahangku bergetar sakit sekali. Aku jatuh terjengkang ke belakang.

RANGGAAAA! Teriak Oli dan Cherllyne hampir berbarengan.

HAHAHAHA…MAMPUS LUH JING! Teriak Dino dengan tertawa puas bisa memukul ku hingga jatuh.

Salah seorang security bergerak maju untuk membantuku, namun aku segera menghadangnya.

Tunggu pak! Biar saya urus dia dulu pak, pliss! Ujar ku kepada security yang tadi di bawah sempat bersitegang dengan gw.

Sialan! Karena gw terlalu bernafsu pengen ngebantai nih anjing kampung, malah gw sendiri yang di bantai dia.

Gw lalu berusaha menenangkan diri gw, dengan menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya pelan. Berusaha mengatur nafas gw biar gw bisa tenang dalam bereaksi.

Mata gw mulai fokus melihat ke arah Dino. Dino kali ini bergerak maju untuk menyerang ku. Aku langsung menajamkan penglihatanku, berusaha menganalisa gerakannya dengan cepat.

Kaki kirinya maju menjadi tumpuan. Artinya Dino pasti akan melepaskan pukulan keras dengan tangan kanan nya dari arah samping.

Hah..sesuai dugaan gw memang. Sebuah tinju kanan yang mengarah ke muka gw. Dan dalam sekejap, dalam kepala gw langsung terbayang gerakan-gerakan gw selanjutnya untuk mengantisipasi serangan si Dino.

Pertama, gw tahan pukulan Dino pake siku tangan kiri, dan bersamaan dengan gerakan menahan, kaki kanan gw langsung menendang ke arah selangkangan si Dino. Pasti membuatnya membungkuk kesakitan.

Dan saat itu lah kaki kanan gw kembali melesat dari bawah. Kali ini sasarannya adalah hidung si Dino yang lagi membungkuk itu.

Setelah itu, gw langsung bergerak memutar ke belakang sambil menarik dan membanting tubuh Dino ke belakang, sekalian gw piting tangannya.

Saat dia sudah jatuh tiduran tidak berdaya, saatnya membuatnya terlelap ke alam mimpi dengan sebuah tinju keras ke hidungnya. Begitu pikir gw, kali ini dalam sekejap berhasil menyusun langkah-langkah yang harus gw ambil buat melumpuhkan bangsat pengecut satu ini.

Dan saat pukulan Dino hampir mencapai sasaran, tangan kiri gw langsung bergerak sesuai dengan gerakan-gerakan yang sudah gw susun untuk menjatuhkannya tadi.

DUGG! Aduuhhh!, si Dino mengaduh kesakitan, saat tangannya yang hendak memukul gw, malah menghantam ujung sikut gw. Namun, kesakitan yang sesungguhnya belum di mulai.

BUKKK! AWW…AAKKHHH…AKKKHHHH Si Dino langsung menjerit dan susah bernafas, saat selangkangannya kena hantam kaki kanan gw, hingga hampir tersungkur jatuh jika tangan kanannya tidak gw pegang.

Belum selesai bangsat! Maki gw dalam hati.

WUUTTT….BUKKKK! KRAKKK! Kembali kaki kanan gw merangsek, kali ini menendang hidungnya hingga mengucurkan banyak darah. Dino sudah hampir semaput dengan rasa sakit yang dia alami dari serangan beruntun gw.

Lalu, dengan gerak cepat, gw langsung bergerak ke belakangnya sambil menarik tangannya ke belakang, membuat badannya tertarik ke belakang hingga jatuh berdebum di lantai.

AAAAHHHHHHHH Jeritnya lagi saat tangan kanan dia gw piting dengan kaki gw.

Kali ini, sekali lagi rencana gw sukses menjadi kenyataan, saat pukulan, tendangan dan pitingan yang gw rencanain tadi berjalan mulus.

Tinggal 1 pukulan terakhir. Namun saat gw hendak meninju hidungnya, saat tangan kanan gw uda terangkat tinggi, tiba-tiba dari arah depan melesat sebuah vas bunga telak menghantam wajah Dino, hingga ia pun pingsan dengan wajah semakin berlumuran darah.

Gw asli terkejut banget melihat kejadian itu. Dan gw pun reflek langsung melihat ke arah depan gw. Oli dengan nafas yang memburu sedang berdiri tegak. Pandangan matanya menyiratkan kebencian yang teramat sangat.

Gw sedikit tersenyum melihat kemarahannya. Bukan tersenyum meremehkan, namun tersenyum bangga, ini lah Oli yang gw kenal. Seorang wanita pemberani namun tetap imut sekali.

Gw langsung berdiri dan menghampirinya. Gw usap wajahnya, dan kepalanya sambil memperhatikannya. Oli pun langsung menatap gw dengan pandangan sayu, dan seperti hendak menangis lagi.

Lu…gapapa Ol?, tanya gw lembut. Dan tangis Oli pun langsung pecah saat Oli langsung memeluk tubuh gw. Dan gw pun memeluknya dengan erat.

Lu gapapa Ol?, tanya gw lagi saat tangisannya sedikit mereda.

Oli hanya menggelengkan kepalanya sedikit sambil tersenyum pelan, kemudian merebahkan kembali kepalanya di dada gw. Gw reflek mengecup keningnya. Gw kemudian menarik Oli menuju ke arah Cherllyne yang masih berdiri bersandarkan tembok.

Security yang masih menemani gw, mulai mengikat tangan dan kaki si Dino, saat gw berada di hadapan Cherllyne.

Lu gapapa Cher?, tanya gw lembut juga, sambil tangan kanan gw menggenggam erat tangan Oli.

Gapapa Ga, gw…cuma rada shock aja, Jawab Cherllyne berusaha tersenyum sedikit, dengan padangan mata yang terlihat lelah.

Kali ini gw reflek menarik tangannya ke arah gw, dan Cherllyne pun memeluk tubuh gw dengan erat sekali. Kami jadi saling berpelukan bertiga. Gw juga mengecup keningnya sama seperti dengan Oli tadi.

Maaf ya, kalo aja gw lebih cepet dateng, lu berdua ga bakalan ampe kesentuh tangan para bajingan pengecut itu, Ujar gw sambil memeluk erat tubuh keduanya. Kami berpelukan bertiga dan saling mengaitkan lengan kami masing-masing.

Kemudian, gw membawa mereka keluar dari kamar Cherllyne. Kamar yang semalam menjadi saksi pertempuran liar gw ama Cherllyne, yang sekarang tampak berantakan sekali. Sambil menggenggam tangan mereka berdua kiri dan kanan, gw bawa mereka ke ruang tamu.

Sementara Dino dan teman-temannya di bawa ke pos security sambil menunggu kedatangan polisi untuk menangkap mereka bertiga.

Oli dan Cherllyne pun duduk di sofa, sementara gw mengambilkan air minum untuk mereka berdua yang masih terlihat shock dengan apa yang hampir saja menjadi mimpi buruk dalam hidup mereka berdua.

Gimana? Uda agak tenangan lu berdua?, tanya gw, saat gw duduk di tengah-tengah mereka berdua. Wajah mereka berdua mulai sedikit cerah lagi setelah minum air.

Ampir aja gw… ujar Oli pelan sambil bersandar di bahu gw. Langsung gw peluk sambil mengecup kembali kepalanya.

Pipi lu gimana? sakit ga Ga? Tanya Oli lembut sambil memegangi pipi gw.

Ini musti cepet di kompres es Ga, biar ga jadi bengkak. Cher, lu punya es batu ga? Ujar Oli sebelum meminta es batu kepada Cherllyne.

Cherllyne langsung bergerak untuk mengambil kain dan es batu, buat mengompres pipi gw, yang masih terasa nyut-nyutan.

Lu ga telepon si Gery Ol? Buat jemput lu? Tanya gw sambil mengompres pipi gw, walau males banget sih ngebahasnya sebenarnya.

Selama lu ada di samping gw, gw ga butuh siapa-siapa Ga, Ujar Oli pelan masih sambil rebahan di bahu gw, membuat gw kaget namun bingung apa maksudnya.

Lah uda ada laki lu yang nemenin lu tiap ari juga, ngapain lagi gw nemenin lu Ol? Yang ada cuma jadi nyamuk gw nya, nontonin lu berdua asoy geboy gitu. Makasih deh, Jawab gw santai. Gw ga mau lagi lah terlalu berharap yang aneh-aneh kaya dulu.

Ga, demi Allah, waktu itu ga seperti yang lu bayangin Ga. Ga ada kejadian apa-apa antara gw ama Gery kok. Gw langsung usir si Gery pulang pas gw tau lu dateng ke rumah gw gitu, Seru Oli tampak putus asa berusaha menjelaskan apapun yang dia rasa perlu ke gw.

Lah, kan gw uda bilang, gw ga ke rumah lu Ol, lagian kan gw juga bilang kan kemaren, lu mao ada kejadian apa kek antara lu ama Gery, apa hubungannya ama gw Ol? Kenapa lu musti repot-repot ngejelasin hal kaya gitu ke gw sih? kan bukan urusan gw Ol?, Ujar gw dingin.

Ya ampuuunnn Ranggaaaa. Oli langsung menangis sambil memegangi kepalanya. Dia mungkin uda ga tau lagi musti bilang apa ke gw. Yah gw rada kasian sih sebenernya, tapi yah gw ga mao berharap terlalu jauh lah.

PLAKK! Tiba-tiba belakang kepala gw di keplak Cherllyne.

Wadaw…woy…maen gaplok aja kepala orang luh Seru gw rada sewot.

Ga usah sok bebal Rangga. Lu tau ga alesan Oli bisa ada di apartemen gw sekarang? Tanya Cherllyne ke gw.

Ya jelas iye dong gw tau. Emang gw cenayang apa, Sahut gw asal.

Oli uda tau semalem lu nginep pas abis jalan ama gw, Ga. Dia mao minta konfirmasi langsung ke gw, bener ga nya lu nginep di sini, Ujar Cherllyne mengejutkan gw. Apa Cherllyne uda cerita juga kalo gw ama dia abis bertempur birahi semalam disini?

Eh…emm…lu..lah emang mao ngapain pake konfirmasi segala ke lu? Tanya gw lagi.

Dan kita uda sharing kok tentang sumber kesalah pahaman ini. Ya, gw juga uda ceritain apa yang lu ceritain ke gw semalem, karena Oli berhak untuk tau Ga. Lu ga bisa belaga bego mulu dan bersikap dingin dan ketus terus ama dia, Ujar Cherllyne, kembali mengejutkan gw.

Haishhh…kenapa jadi ribet gini seh. Pikir gw.

Lu bilang ga ada hubungannya ama lu Ga, tapi buat gw ada Ga. Gw tau lu marah dan sakit hati ngeliat gw kaya gitu kemaren itu, gw minta maaf Ga. Gw sayang am… Sebelum Oli menyelesaikan kalimatnya, langsung buru-buru gw potong.

WOOWW…tar dulu Ol…tar dulu. Sebelumnya gw mau bilang satu hal ama lu. Lu inget status lu apa sekarang. Sebelum lu ngucapin kalimat yang cuma bikin masalah itu, lu inget sekarang ini lu tuh siapa Ol. Potong gw masih rada ketus.

Gila, status dia masih cewe orang kali. Sekarang ngucapin sayang ke gw, besok cipokan lagi, jamah-jamahan lagi ama si Gery, buset deh.

Mba Liana juga istri orang sih statusnya, tapi kan mereka lagi bermasalah. Uda jelas keadaan dan kondisinya. Tapi ini mereka kan ga ada masalah. Bagi mereka, yang ada tuh gw yang jadi sumber masalah kalo gini caranya. Wedeh, tar dulu deh brur.

Lu itu cewe nya si Gery kan. Mending lu ga usah ngucapin kalimat yang cuma bakalan bikin masalah ama PHP doang Ol. Lu jangan menclok kiri ngomong sayang, ngomong cinta ke orang yang satu dengan gampang, trus menclok kanan cemek-cemekan lagi ama yang laen, kaya burung kakak tua Ol. Inget status lu tuh siapa, dan gw siapa. Kita sahabatan dari kecil, dan mungkin emang itu yang terbaik buat kita Ol. Jadi ga saling menyakiti Ujar gw dingin. Oli langsung terdiam mendengar semua ocehan gw, sementara Cherllyne memandang dengan wajah menyelidik.

Suasana pun menjadi hening kemudian.

Cher, apartemen lu berantakan gini, belom lagi kalo si kunyuk itu dateng lagi. Emang kemungkinan mereka bakalan nginep di sel polisi, tapi ya jaga-jaga aja. Lu mending nginep aja di tempat laen Cher?, Ujar gw memecah keheningan.

Eh…emm..iya sih…yah palingan gw buka kamar aja lah di hotel deket-deket sini. Ampe kamar gw uda rapih lagi, Jawab Cherllyne santai.

Lu…ga ada tempat laen Cher selaen disini? Si kampret takutnya balik lagi Cher, Ujar gw rada kuatir.

Hmm…ada sih apartemen bokap gw satu lagi, tapi jauh sih dari kantor jadinya. Palingan, gw nyari kontrakan apartemen aja lah di tempat laen Jawab Cherllyne lagi.

Daripada lu buang-buang duit di hotel, gimana kalo lu nginep aja dulu sementara di rumah gw Cher? Kan gw juga cuma sendirian aja ama asisten rumah tangga gw. Ujar Oli. Wajahnya terlihat murung dan lesu.

Hmm…boleh juga sih Ol, tapi lu jangan tersinggung kalo gw ga lama-lama lho nginep di rumah lu. Gw paling ga mau ngerepotin orang soalnya. Hehehe, Jawab Cherllyne.

Ga repot lah. Tapi yah terserah lu sih Cher. Ujar si Oli lagi sambil tersenyum lembut. Mereka saling menatap lembut karena adanya pengertian di antara mereka berdua.

Oke lah, uda fixed kan kalo gitu. Lu buruan deh Cher beresin baju-baju lu buat nginep, gw uda laper bingit nih, belom lagi kita pasti tar dimintain keterangan dulu ama polisi kalo uda dateng. Mending kita makan dulu aja deh Ujar gw. Perut gw emang uda mulai konser rusuh, menagih jatah makan malamnya.

Hahaha…lu tuh ya, makanan mulu. Ya uda bentar Ga, Ujar Cherllyne yang kemudian menuju kamarnya, di ikutin oleh Oli. Sementara gw duduk di ruang tamu.

Haaahhh…apa gw terlalu ketus dan keras ya ama Oli? Bagaimana gw seharusnya bersikap ama dia ya. Gw…kayanya cuma takut sakit hati lagi aja kalo ngeliat dia lagi mesra-mesraan ama si Gery.

Tapi mungkin perasaan Oli juga sama yah, kalo ngeliat gw lagi mesra-mesraan, bahkan ampe ML ama Cherllyne dan mba Liana. Hehehe…apa gw terlalu egois yah. Pikir gw.

Kalo gw pikir-pikir, yah gw juga sama aja kaya Oli sih. Ngaku sayang ama Oli, ama Rani, walau ga di depan orangnya langsung, tapi gw ampe ML gila-gilaan ama mba Liana, ama Cherllyne.

Kalo Oli atau Rani ampe tau apa aja yang uda gw perbuat ama mba Liana dan Cherllyne, gimana yah reaksi mereka? Apa sama kaya gw gini? Haaahh…mungkin gw cuma cari-cari alasan aja biar ga sakit hati. Tapi kalo mereka ngeliat gw gimana, pasti sakit hatinya melebihi apa yang gw rasain sekarang.

Trus…gw musti gimana? Gw gak rela Oli atau Rani, bahkan sekarang mba Liana ampe mesra-mesraan ama cowo laen, tapi di sisi lain, gw sendiri terus main gila ama mba Liana dan Cherllyne. Gawat ini.

Gw musti gimana yah enaknya kalo gitu?

Bagaimana gw musti bersikap ama Oli?

Author: 

Related Posts

Comments are closed.