Cerita Sex Cinta Sejati – Part 3

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 3by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 3Cinta Sejati – Part 3 Pada saat buku keempat selesai aku tandatangani, sebuah buku terulur ke arahku Minta tandatangannya ya, kak Sebuah suara merdu membuatku mengangkat muka, menatap si manusia kurang ajar yang berani-beraninya menyodorkan buku tambahan tanpa melalui casting bernyanyi dulu Degh. Waktu seakan berhenti. Aku memanfaatkan detik-demi-detik yang berlalu untuk menatap wajah si […]

multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-7 multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-8 multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-9Cinta Sejati – Part 3

Pada saat buku keempat selesai aku tandatangani, sebuah buku terulur ke arahku
Minta tandatangannya ya, kak
Sebuah suara merdu membuatku mengangkat muka, menatap si manusia kurang ajar yang berani-beraninya menyodorkan buku tambahan tanpa melalui casting bernyanyi dulu

Degh.
Waktu seakan berhenti.
Aku memanfaatkan detik-demi-detik yang berlalu untuk menatap wajah si pemilik buku.
Seorang gadis, sambil menunduk meletakkan lututnya ke tanah di depanku yang sedang duduk disebongkah batu, berjongkok menyamakan tingginya denganku.

Sebelum sampai tanganku menyambut buku yang disodorkannya, aku menyadari bahwa diriku telah jatuh cinta.
Teramat dalam, seakan membuat jatuh cintaku yang sebelumnya terasa tak ada artinya.

Antara aku, dan gadis itu, ada sebuah jurang yang teramat dalam.
Dan aku terjatuh ke dalamnya, dengan penuh bahagia.

Aku yang sedang jatuh cinta

Cinta Sejati
Bagian 3
Rasa Cinta Ini Bernama Pipit

Heh, memang kamu tadi udah nyanyi??? kataku jutek.
Bukan karena kelakukannya yang tiba-tiba main kasih buku aja tanpa aku kerjai, tapi untuk menutupi rasa malu tak terhingga yang tiba-tiba aku sadari setelah siuman dari bengong pegang-pegangan buku.

Belum kak jawab sang gadis sambil buru-buru menunduk, tak berani lagi balas menatapku.

Aduh mak, lembut kali suaranya

Kamu berdiri dulu di belakang mereka, ya kataku masih jutek.
Antri sana..!!!
Langsung aku sesali ucapanku ini, karena aku malah membentaknya.

Si gadis itu lalu berjalan kearah belakang 5 cewek yang sedang menunggu buku mereka aku tanda tangani. Pura-pura cuek, aku melanjutkan menandatangani buku mereka, kecuali buku si gadis yang terakhir. Setelah selesai, aku serahkan buku-buku itu pada mereka.

Kamu! kataku keras pada gadis terakhir tadi. Dia mengangkat wajahnya yang tertunduk. Jelas jika dia jadi ketakutan.
Astaga Kembali aku merasa bersalah karena berkata kelewat keras

Dia maju ke arahku, dan kembali bersimpuh dihadapanku seperti tadi baru pertama datang.
Kak, kalau boleh kami permisi dulu, masih mau nyari tandatangan kakak-kakak yang lain seorang gadis dari rombongan pertama pamit kepadaku. Sepertinya mereka mau buru-buru pergi, mungkin karena gak tega melihat gadis terakhir aku hukum.

Ya sudah, kalian boleh pergi jawabku yang langsung membuat kelimanya berbalik dan kabur secepat mungkin.

Tinggal aku dan sang gadis, yang bersimpuh di depanku.
Jelas sekali dia ketakutan. Sudah salah, dan sekarang ditinggal sendirian.

Posisi kami yang saling berhadapan membuatku bisa melihat langsung ke ubun-ubunnya. Sebenarnya ingin melihat wajahnya lagii Tapi dia sedang menunduk ketakutan.

Nama kamu siapa..?
Sontak dia mengangkat wajahnya, matanya tepat menatapku. Jelas sekali dia terkejut.
Nada bicaraku berubah jadi sangat lembut. Aku juga gak tau kenapa.

A..a..apa kak..? keterkejutannya membuatnya terbata-bata.
Ya Tuhan, maafkan aku telah menakut-nakutinya

Nama kamu Aku belum tau nama kamu kataku lagi sambil melihat ke bukunya, memang tak ada nama disitu. Lalu aku tatap lagi wajahnya, menanti dia menyebutkan namanya.

Pipit, kak jawabnya
Lho, kok pipit sih, pikirku. Wajahnya sama sekali gak menunjukkan kecerewetan selayaknya burung pipit. Wajah itu terlalu lembut. Dan bibir itu juga terlalu indah jika harus jadi bibir yang cerewet.

Nama lengkap kamu kataku lagi. Kakak mau tau nama lengkap kamu..
Sejenak dia terdiam, dan yang membuatku heran dia seperti menarik nafas untuk mengumpulkan sedikit kekuatan sebelum menyebutkan nama lengkapnya.

DES[R]I SAVIT[R]I T[R]ESNANU[R]SA[R]I sebutnya cepat, tapi terdengar lirih. Aku saja hampir tak mendengar dan kurang tersimak benar

Siapa..? aku kembali bertanya, emang kurang jelas kok.

Kembali dia terdiam, dan mengulangi menarik nafas dan menyebutkan nama lengkapnya dengan cepat walau sekarang lebih jelas terdengar olehku..

DES[R]I SAVIT[R]I T[R]ESNANU[R]SA[R]I

Seketika itu juga meledaklah tertawaku, aku ngakak sejadi-jadinya walau sama sekali gak bermaksud mentertawakannya.

Bukan. Bukan karena namanya yang aneh atau lucu. Tapi cara Pipit mengucapkannya yang lucu. Ternyata, Pipit gak bisa melafazkan huruf [R] dengan sempurna. Jadi, anda-anda tidak salah membaca namanya, bukan salah ketik kok. Aku aja yang gak bisa menemukan huruf yang tepat untuk mewakili cara Pipit menyebutkan [R]. Kalo anak kecil yang cedal kan bilang [R] jadi huruf [L], tapi dia ini beda, huruf [R] nya itu bukan lidahnya yang bergetar, tapi seperti tertahan di tenggorokan. Ah, paham, kan..? kebayangkan gimana Pipit melafazkan [R]?

Pipit langsung menunduk. Gak jelas antara malu atau kesal karena aku mentertawakan dia.

Susah payah aku menghentikan tawaku. Setelah aku bisa menenangkan diri, aku segera menandatangani bukunya. Lalu aku serahkan buku itu padanya. Saat menyerahkan buku itu gak langsung aku serahkan, aku tetap tahan dan Pipit kembali mengangkat wajahnya menatapku.

Nah, sudah kakak tandatangani. Maaf ya tadi kakak tertawa
Pipit kembali menunduk, tak berusaha menarik bukunya dari peganganku.

Pit panggilku, dan Pipit kembali menatapku. Aku melepaskan bukunya sambil bilang..
Sepertinya tadi kamu susah banget mau nyebutin nama lengkap kamu Apa karena gak bisa ngomong [R] itu, ya?

Ih si Pipit ini nunduk lagi. Hobi amat nunduk sih. Kan jadinya aku gak bisa menatap wajah lembut yang cantik itu

Nama kamu bagus.. aku berusaha mencairkan suasana yang jadi gak enak gitu.
dan kamu gak perlu malu hanya karena kamu gak bisa ngomong [R] bersyukurlah karena huruf yang lain bisa kamu ucapkan dengan sempurna

Pipit tetap diam dan menunduk.

Belakangan aku baru tau kalo ternyata Pipit gak sependiam yang aku sangka. Dia hanya memilih kalimat yang paling sedikit huruf [R]nya. Kalaupun terpaksa dia memilih diam, atau bicaranya itu dipersingkat dan dipelanin Tapi kalo dengan orang-orangnya udah deket ama dia, dia bisa rame juga, walau tetap bicara dengan lembut.

sekarang, Pipit nyanyi dulu ya, temen-temennya tadi juga nyanyi kembali aku menunjukkan kekuasaanku sebagai senior.

Keliatan banget Pipit panik.
Lagu apa kak..? Pipit gak bisa nyanyi.. kata Pipit lirih.
Apa aja boleh, Pit Yang mudah aja deh, lagu Balonku ya.. kataku lagi.

gak mau, kak
lho kenapa, emang gak hapal..? kan itu lagu mudah banget dari kecil kita udah tau..

pokoknya gak bisa, kak Pipit masih usaha supaya gak disuruh nyanyi.
alesannya apa..? wah saya rugi dong tandatangan tapi kamu gak mau nyanyi buat saya.. jelas aku gak mau rugi kalo gak ngerjain ni cewek cakep.

Lama Pipit terdiam, dan aku sudah mulai tak sabar. Ayo cepet deh atau kamu mau lari aja keliling lapangan basket 10 kali? saya mulai menyebar ancaman.

maaf kak, Pipit malu apalagi lagu itu banyak huruf [R] nya. Kata Pipit, hampir nangis dia.

Antara mau ngakak dengan bisa memahami dia, akhirnya aku bilang ama Pipit Ya udah deh, gak apa-apa kalo Pipit gak mau nyanyi
Aku bangkit dan berjalan ke arah kantin mau ngembaliin gelas teh.

Kak Pipit memanggilku, tetap dengan suaranya yang lirih syahdu.
Aku berhenti dan menoleh ke arahnya.
Makasih ya. Kata Pipit sambil tersenyum. Manis banget senyumnya.

Iya, sama-sama dan aku berharap dia kembali tersenyum untukku. Tapi Pipit malah menunduk. Ya sudah, aku kembali berjalan ke arah kantin.

Kak eh si Pipit manggil lagi
kenapa, Pit..?
Nama kakak siapa? wah ngajak kenalan nih si Pipit.
Namaku Raka.
Iya tau. Nama lengkapnya kakak siapa, mau Pipit tulis di buku ini katanya sambil menunjukkan buku yang aku tandatangani tadi.

Nama ku Raka. Raka Murdiantoro
Waduh keluh Pipit.

Lho, kok waduh?

Huruf [R]nya banyak banget jawab Pipit sambil tersipu malu.
duh.. cantik banget dia saat tersipu begitu…
Sumpah cantiiiiiik banget..!!!

Saat itu aku hampir tertawa karena dia bilang huruf [R] di nama ku banyak banget. Tapi gimana mau ketawa, yang ada aku justru terpesona pada sikap tersipunya itu. Karena alasan huruf [R] inilah akhirnya setelah kami resmi jadian, Pipit tidak memanggilku dengan kebutan kakak lagi. Dia aku minta memanggilku dengan Raka saja, tanpa embel-embel kakak. Tapi Pipit ngotot gak mau manggil Raka, akhirnya dengan berat hati aku terima kekasihku memanggilku Kaka.
Bukan karena mau ngikutin nama pemain bola terbaik dunia atau vokalis band ngetop itu. Alasannya, karena kalo Pipit manggil Kaka, kan gak ada huruf [R]nya.
Hadeeehhhh

Hari itu diselesaikan dengan saling tukeran nomor HP.
Setidaknya, selendang sang Bidadari sudah aku pegang.

Author: 

Related Posts